Bermain di Amerika Serikat, Timur Tengah, atau Asia umumnya menjadi pilihan bagi sebagian besar pesepakbola di penghujung karirnya. Selain faktor penurunan stamina yang tidak bisa dibohongi seiring bertambahnya usia, bermain sambil ‘berlibur’ memang rasanya boleh juga. Berangkat latihan tanpa beban untuk menjuarai liga dan turnamen Eropa, menikmati indahnya kota Dubai atau New York sepulang kerja, dan jauh dari sorotan media adalah bayangan menyenangkan untuk menikmati hari-hari menjelang gantung sepatu. Namun sepertinya, Cristiano Ronaldo sama sekali tidak tertarik.
Berusia 36 tahun dan telah meraih segalanya, Ronaldo malah kembali ke Liga Inggris. Liga paling kompetitif, jika diukur dari keragaman tim yang keluar sebagai juara setiap tahunnya. Ronaldo kembali memperkuat Manchester United, klub yang membesarkan namanya menjadi pemain kelas dunia. Sebetulnya penulis berspekulasi pria kelahiran Madeira ini akan pulang ke Sporting Lisbon. Namun nampaknya bagi Ronaldo, Liga Portugal bukanlah medan tarung selevel bagi dirinya, yang pada musim terakhir saja masih menjadi pemain paling subur di Serie A. Ronaldo yang dipandang banyak pihak arogan itu mungkin malu menoleransi dirinya sendiri. Akhirnya ia memilih pulang ke rumahnya yang lain di tanah Britania.
*
Bicara soal arogansi, pengertian tersebut perlu ditempatkan sesuai porsinya. Umumnya seseorang dikatakan arogan apabila ia menyombongkan pencapaian yang mungkin sebenarnya tidak seberapa. Lantas pertanyaannya, bagaimana jika pencapaian dimaksud memang luar biasa? Mungkin logika ini yang dipakai oleh Ronaldo. Sepakbola bukan musik yang berkaitan dengan rasa. Ukuran keberhasilan seorang pesepakbola adalah angka: berapa kali juara, berapa banyak gol yang dicetak, berapa banyak clean sheet, hingga berapa nilai transfer seorang pemain. Ronaldo mungkin sadar bahwa angka-angka yang dimilikinya akan membuat definisi arogan menjadi berbeda.
Memang tidak pernah benar-benar diketahui apakah karakter Ronaldo tersebut merupakan pembawaan diri yang sudah dari sananya atau self-branding yang sengaja dibangun. Namun jika mundur jauh ke belakang, sebetulnya Ronaldo hari ini dan Ronaldo silam tidak ada bedanya. Ketika Portugal kalah dari Yunani di partai final Piala Eropa 2004, Ronaldo yang saat itu masih berusia 19 tahun menangis tersedu-sedu (yang dia ulangi di tahun 2016, hanya saja dengan makna berbeda). Meskipun bermain penuh dan berkontribusi cukup signifikan, ketika seorang pemain muda bersikap demikian di tengah-tengah pemain kelas dunia saat itu seperti Luis Figo, Deco, atau Rui Costa, akan rentan dipandang sedang mencari panggung. Namun ternyata setelah itu pun Ronaldo memang tidak pernah sungkan mengekspresikan emosi yang ia rasa. Jika sedih atau kecewa silakan menangis, jika puas silakan berbangga, dan jika kesal silakan marah. Wayne Rooney pasti paham betul maksud yang terakhir.
Ada sebuah Insiden di Piala Dunia 2006 saat Rooney terlihat sengaja menendang selangkangan Carvalho ketika dalam duel perebutan bola. Tak terima rekan setimnya dilanggar, Ronaldo memprovokasi wasit dan mengatakan Rooney seharusnya diberi kartu merah. Rooney sontak mendorong Ronaldo seolah mempertanyakan maksud dari aksi rekan satu klub-nya. Singkat cerita, Rooney dikeluarkan dari pertandingan. Mendramatisir keadaan demi menambah keuntungan dan kesempatan tim untuk menang adalah hal yang biasa terjadi di dalam pertandingan sepak bola. Namun yang dianggap menarik adalah reaksi Ronaldo setelahnya. Setelah Rooney meninggalkan lapangan, Ronaldo mengedipkan mata ke arah bangku cadangan Portugal. Momen sepersekian detik tersebut kemudian di-blow up habis-habisan oleh media Inggris. Terbentuk narasi bahwa Ronaldo ‘merayakan’ keberhasilannya membuat Rooney terkena kartu merah. Rooney sendiri beberapa tahun kemudian mengakui pelanggaran tersebut dan memaklumi tindakan Ronaldo. Namun tetap saja, tindakan Ronaldo terhitung berani mengingat ia bermain di Liga Inggris dan satu klub dengan Rooney. Bukan terhadap risiko ketidakharmonisan Manchester United (karena itu bisa ditangani Sir Alex), namun terhadap risiko framing dari media Inggris yang terkenal suka mencari kambing hitam.
Syukur tidak ada dampak signifikan dari kejadian tersebut. Hubungan Ronaldo dengan Rooney baik-baik saja, dan tidak ada hujatan berkelanjutan yang diterima Ronaldo. Yang terjadi malah sebaliknya, Ronaldo berkembang menjadi key player yang disayangi oleh publik Old Trafford. 3 gelar juara Liga Inggris dan 1 gelar Liga Champions juga sudah lebih dari cukup untuk membuat media Inggris tak tertarik lagi menyinggung insiden Piala Dunia. Bersama Manchester United, Ronaldo memulai kejayaan. Juara Premiere League, Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, hingga penghargaan Ballon D’Or diraihnya dalam kurun tiga tahun. Ronaldo menjelma menjadi A-list player. Walaupun uniknya di saat yang bersamaan, seseorang di Spanyol tengah menapaki proses yang serupa. Mohon bersabar, soal itu nanti kita bahas di tulisan berikutnya.
*
Rumus untuk berkembang menjadi pemain berprestasi sebetulnya sederhana: kombinasi antara kemampuan individu, kemampuan kolektif tim, dan sistem kompetisi yang profesional. Namun untuk pemain seperti Ronaldo, memiliki itu semua belum tentu cukup manakala karakter dirinya justru dapat menjadi ancaman. Ronaldo beruntung, adalah Sir Alex Ferguson yang berada di sisinya dalam fase krusial pertumbuhannya sebagai seorang pesepakbola. Fergie tidak pernah membuka ruang untuk siapapun menjadi bintang. Coba nekat, paling ringan ditimpuk sepatu. Manchester United adalah tim besar dengan kekuatan kolektif. Pemain kunci pasti ada, namun tidak ada ketergantungan. Keseimbangan ini yang membuat Ronaldo bisa fokus mengasah kemampuan tanpa harus terlena oleh hal-hal lain yang bersifat destruktif. Meskipun tetap saja sesekali ada momen-momen yang bikin publik gemas kepada Ronaldo karena terlihat arogan, namun percayalah jika bukan di bawah pantauan Fergie, mungkin Ronaldo sudah keburu ‘selesai’.
Hubungan Ronaldo dan Fergie sangat unik. Meskipun memiliki hubungan yang akur dan beberapa kali Ronaldo juga mengatakan “he’s my father in football”, tetapi jika diperhatikan mereka tidak pernah terlihat mesra. Biasa-biasa saja, seperti hubungan baik antara pelatih dan pemain pada umumnya. Hingga akhirnya kepulangan Ronaldo ke MU benar-benar menyadarkan publik bahwa hubungan mereka memang erat. Dalam cerita di autobiografinya, Fergie juga merestui kepergian Ronaldo ke Real Madrid setelah Ronaldo menuruti permintaan Fergie untuk tinggal satu musim lagi. Dinamika seperti ini kiranya tidak lahir begitu saja, melainkan karena ada mutual trust di antara mereka. Hingga akhirnya pada musim panas tahun 2009 Ronaldo benar-benar hijrah ke Spanyol, memulai petualangan baru bersama Real Madrid.
*
Ronaldo mencapai puncak karirnya di Real Madrid, dengan torehan yang tidak terbayangkan. Tiba di Santiago Bernabeu sebagai proyek ambisius Los Galacticos Jilid II, sebetulnya banyak yang skeptis Ronaldo akan berhasil. Masuk akal jika melihat pendekatan Real Madrid membangun tim dengan sangat pragmatis: membeli Kaka, Ronaldo, dan Benzema yang saat itu merupakan rising star dunia sepakbola. Haqqul yaqin jika Messi bukan pemain Barcelona, pasti akan dibeli juga. Musim-musim pertama Ronaldo di Real Madrid sebenarnya tidak terlalu mulus, karena di saat yang bersamaan Barcelona sedang menggila dan mendominasi dunia dengan tiki taka-nya. Meskipun sempat menjuarai La Liga pada musim 2011-2012, tetapi bisa dibilang Real Madrid tidak memiliki pencapaian yang impresif pada tahun-tahun pertama kedatangan Los Galacticos Jilid II. Butuh lima tahun hingga akhirnya Ronaldo menuju puncak dunia.
Berawal dari keberhasilan Real Madrid meraih gelar kesepuluh Liga Champions atau yang dikenal dengan La Decima di musim 2013-2014, prestasi Ronaldo selanjutnya mengalir seperti air: 3 gelar juara Liga Champions tiga musim berturut-turut, 1 gelar La Liga, 1 gelar Copa Del Rey, dan 5 gelar individu FIFA Ballon d’Or. Hampir semua prestasi yang dapat diraih oleh seorang pesepakbola sudah digenggamnya. Saat itu rasanya dunia sepakbola hanya milik Ronaldo (dan Messi). Meskipun agaknya komentar Pele bahwa sepakbola zaman now membosankan karena hanya didominasi dua figur ada benarnya juga. Ditambah prestasi internasional yang diraihnya ketika Ronaldo membawa Portugal menjuarai Piala Eropa tahun 2016. Sebuah fase dimana Ronaldo mengungguli Lionel Messi karena berhasil mempersembahkan major trophy untuk negaranya, sedangkan Messi sedang disorot karena niatnya untuk pensiun setelah gagal membawa Argentina juara Piala Dunia 2014.
*
Jika ada satu hal yang tidak bisa dibantah haters terkait Ronaldo, mungkin itu adalah komitmen Ronaldo terhadap negaranya. Portugal bukanlah sebuah negara dengan histori berlimpah prestasi, meskipun kerap memiliki materi pemain yang mumpuni. Keberadaan sosok seperti Ronaldo tentu membuat tim nasional Portugal bertumpu padanya. Menjadi figur besar di tim semenjana bukan perkara mudah karena pada akhirnya sepakbola adalah soal kerja sama. Namun sejauh fakta yang berjalan, Ronaldo selalu berkomitmen kepada negaranya. Tidak ada mangkir dari panggilan, tidak ada keluhan ‘bekerja seorang diri’, dan tidak ada niat pensiun dini. Bahkan Ronaldo masih bermain hingga hari ini saat usianya sudah jauh di atas usia umum seorang pemain pensiun dari timnas. Namun nyatanya, kita masih melihatnya wara-wiri hingga hari ini.
Ronaldo di final Piala Eropa 2016 adalah sisi lain dirinya yang belum pernah ia tunjukan. Menahkodai tim dengan proses tertartih-tatih dan diliputi kontroversi, Portugal melaju ke final. Saat di fase grup ia mengkritik Islandia yang bermain parkir bus (mungkin Ronaldo lupa bahwa pelopor taktik ini adalah mantan pelatihnya sendiri). Portugal juga lolos ke fase selanjutnya dengan tiket peringkat ketiga terbaik di grup, sebuah sistem aneh dari UEFA saat itu. Sehingga ketika bertemu tuan rumah Perancis di final, Portugal tentu bukan favorit juara. Apalagi saat Ronaldo harus berhenti bermain sejak menit-menit awal karena cedera (yang diwarnai tangisan lagi), semua yang menonton mungkin menilai pertandingan sudah selesai. Namun sepakbola adalah olahraga yang tidak pernah biasa-biasa saja. Sepakbola selalu menghadirkan kejutan dan cerita yang akan mewarnai sejarah. Seperti tak ingin hilang sorotan, Ronaldo berubah menjadi pelatih! Berjalan kesana-kemari dengan kaki diperban, ia sibuk mengomandoi rekan-rekannya dari pinggir lapangan.
Ketika akhirnya Eder mencetak gol, Ronaldo tak bisa menahan dirinya. Ia berteriak sekencang-kencangnya, memegangi kepalanya sendiri seolah tidak percaya. Itu sikap Ronaldo yang biasa, tapi emosi yang keluar tidak biasa. Rasanya belum pernah ada ekspresi seperti itu sepanjang karirnya. Sebetulnya wajar mengingat pencapaian di level tim nasional tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan level klub. Ronaldo akhirnya membuktikan dirinya berada di puncak dunia. Yah, walaupun akhirnya disamakan oleh Messi lagi ketika sang kompatitor akhirnya berhasil membawa Argentina juara Copa America lima tahun kemudian.
Namun satu hal dari Ronaldo yang menurut hemat penulis tidak akan pernah bisa disamai Messi adalah kemampuan adaptifnya. Oke jangan salty dulu, memang benar saat ini Messi sudah berada di klub lain selain Barcelona. Namun pada akhirnya, Ronaldo yang berhasil membuktikan mampu meraih yang terbaik dimanapun, bersama siapapun, dalam jumlah berapapun. Seperti yang pernah ia tulis di Instagram “from Madeira to Lisbon, from Lisbon to Manchester, from Manchester to Madrid, from Madrid to Turin”. Entah karena Ronaldo pandai memilih ekosistem dan timing, atau memang pada dasarnya dia membawa hoki, prestasi akan selalu ada di mana ia berpijak. Meskipun banyak pihak yang menganggap pencapaian Ronaldo di Juventus tidak seberapa, tetapi jika dipikir-pikir kembali bahwa dari total tiga musim, raihan 2 gelar juara Serie A, 1 gelar juara Coppa Italia, dan masih sempat-sempatnya menjadi top skor liga di usia 36 tahun, bukan capaian yang bisa dipandang sebelah mata. Sedangkan Messi baru akan membuktikan diri musim ini, dan bukan tidak mungkin sekaligus jadi yang terakhir.
*
Saat ini Ronaldo mendapat sambutan meriah dalam kepulangannya ke Manchester United. Narasi welcome home bergema dimana-mana. Glorifikasi yang berbahaya, sebetulnya. Ekspektasi tinggi selalu diikuti kekecewaan yang tinggi pula bila gagal dipenuhi. Apalagi banyak yang dikorbankan dalam kepulangan Ronaldo ini, nomor punggung 7 misalnya. Edinson Cavani harus merelakan nomor punggungnya demi sang legenda hidup. Langkah ini membentuk kesan bahwa pada akhirnya Ronaldo akan selalu diprioritaskan. Belum lagi wacana pemindahan ban kapten dari Harry Maguire. Lalu komposisi starting line-up yang pasti akan berubah.
Namun demikian, semua tahu Ronaldo tidak pernah biasa-biasa saja. Menaruh ekspektasi tinggi terhadapnya wajar-wajar saja. Selain pencapaian tim dan individu, rekor demi rekor ia torehkan. Penampil dan pencetak gol terbanyak Liga Champions sepanjang sejarah (rekor most appearances bisa dipastikan akan segera menjadi miliknya karena hanya berjarak satu pertandingan lagi dengan Iker Casillas selaku pemegang caps terbanyak) serta pencetak gol terbanyak di level internasional juga menjadi miliknya. Rekor yang masih bisa dipertahankan karena dirinya belum menunjukan minat undur diri. Jika melihatnya bermain, kita akan sepakat bahwa Ronaldo masih berada di level skill and performance yang luar biasa di usianya yang akan menginjak 37 tahun. Akrobat Ronaldo di atas lapangan memang tidak lagi seluas dulu, namun pergerakannya lebih efektif dan efisien. Belum gantung sepatu saja sudah di atas rata-rata.
Bicara soal kehidupannya di luar lapangan, Ronaldo juga punya banyak cerita. Rekam jejak kehidupan romantisnya menasbihkan Ronaldo sebagai seorang penakluk wanita (walaupun tak sedikit yang mulai mempertanyakan orientasi seksualnya karena belum kunjung menikah). Belum lagi kontroversi yang mewarnai seperti dugaan pelecehan seksual, dimana pembelaan Ronaldo adalah hubungan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka. Atau yang terbaru soal bikin turun harga saham Coca-Cola. Tentu tidak melupakan sifat arogan yang sudah seperti menjadi identitas dirinya. Namun entah bagaimana, Ronaldo mampu membuat orang-orang tidak berfokus pada hal-hal itu. Apalagi dalam beberapa kesempatan, ia sudah bisa menunjukkan diri sebagai pribadi yang rendah hati dan menghargai orang lain. Sepertinya Ronaldo sudah punya konsultan self-branding.
*
Suka tidak suka, Ronaldo adalah sejarah. Ronaldo telah menjadi bagian dari sejarah sepakbola yang akan terus dibahas dari masa ke masa. Waktu penggemar sepakbola mengikuti sepak terjangnya tidak banyak. Waktu tidak akan berhenti sehingga hari dimana Ronaldo gantung sepatu akan tiba. Selama itu, yang perlu kita lakukan hanyalah menikmati kembali Ronaldo yang tak pernah biasa.